-webkit-border-radius: 100px; -moz-border-radius: 100px; border-radius: 100px; #linkwithin_logolink_0 {display:none;}

Playdate (Food) Photography Bareng @dapurhangus

Masih tentang Maraca Books & Coffe Shop, tapi bukan mengenai Maracanya sendiri karena udah saya tulis di sini.  Melainkan tentang ngapain saya awal Februari lalu di sana. Dan baru diposting April?  Holly Molly, malasnyaaah dirikuuhh 😫
Tidak lain karena Playdate Photography bareng @dapurhangus, si pelaku food photography yang hasil jepretannya daebak sangat!


A post shared by Dapur Hangus (@dapurhangus) on


Jika ditotal, ini adalah kali ketiga saya mengikuti workshop tentang fotografi. 3 narsum di 3 lokasi workshop dan waktu yang berbeda, dengan 3 photo style plus 3 ilmu tips & tricks.  Memang belum banyak karena masih bisa dihitung oleh sebelah tangan.  Tapi bukan itu yang bikin haus for keep coming to similar workshsop. Karena selalu ada hal-hal yang baru dijumpai di setiap sesi.  Ngga cuma ilmu tapi juga pertemanan. Biasanya peserta saling foll-back akun sosmed, lumayan nambahin follower IG 😘

Akhirnya semakin terasa jika belajar itu memang nggak cukup sekali.  Dan ternyata ada persamaan dari ketiga workshsop tersebut.  Yaitu menggunakan makanan sebagai obyek foto, aha!


Emangnya mau mengkhususkan diri menjadi food photographer?

NOPe!

It just so happens that all of the workshop I attended were using food as an object.  Workshop yang pertama saya ikuti bekerja sama dengan sebuah toko kue yang baru merintis usahanya.  Sedangkan yang kedua adalah kolaborasi antara si penyedia lokasi workshop -which is coffee or resto yang belakangan tumbuh menjamur di Kota Bogor- dengan para narsum.  The way I see, basically it is about collaboration and networking -the common practice on running business these days-.

Narsum gak pusing kudu cari tempat.  Yang punya tempat kedatangan pengunjung tambahan di luar regular customer mengingat peserta workshop foto bisa mencapai belasan orang.  Dan biasanya lagi, para peserta akan langsung pamer hasil jepretannya dengan mengupload foto di akun sosmed masing-masing.  Promo gratis untuk si pemilik resto kan?


Give your best shot, Girls!


Now, back to (food) photography.

Jadi apa donk yang dibahas habis oleh mba Ika Rahma si pemilik akun @dapurhangus yang anti dipanggil "Sist" walaupun dia sendiri pelaku olshop?  Secara Sist adalah common call sign di dunia olshop 'kaannn?

Penguasaan Teknik Dasar Fotografi

Karena ini mengenai motret-memotret, maka teknik dasar yang perlu dikuasai pastinya gak jauh-jauh dari memotret lah yaw.  Selain menjadi pengejar (sinar) matahari alias natural light, mba Ika yang super duper ngocolnya ini juga mengingatkan akan pentingnya memahami 3 elemen dasar dalam memotret yaitu ISO, Shutter speed dan Aperture.  Pun the rule of third.

Dan apakah itu?  Silahkan cari tahu sendiri yaak, udah banyak sumber kok di internet.  BTW kalo ditulis di sini juga alamat panjang ceritanya Sist 😬

"Wherever there is a light, one can photograph - Albert Stieglitz"


Penguasaan Tools (Kamera)

Selain pemahaman teori, ternyata gak kalah penting juga untuk mengenali kamera yang kita gunakan, entah itu kamera pada umumnya ataupun kamera telepon genggam.  Masing-masing perangkat punya keunggulan dan kelemahannya.

Ambil contoh kamera telepon genggam yang beredar belakangan ini punya MP (Mega Pixels) yang gak kalah dengan kamera biasa.  Bentuknya yang handy, praktis dibawa ke mana-mana dan sekarang ini siapa juga sih yang gak bawa handphone ke mana dia pergi.  Pasangan sendiri aja kadang suka ditinggal-tinggal.  Yakan, yakan, yakan?  Intinya, untuk orang-orang yang anti ribet; kamera handphone is sufficient.

Kelemahannya, lensa kamera handphone tidak memiliki tingkat fleksibilitas sebagaimana yang bisa kita nikmati jika memakai kamera konvensional (baca DSLR or mirrorless).  Karena cuma kamera konvensional yang dapat diganti lensanya mulai dari fixed lens yang berukuran imut hingga lensa tele yang ukurannya bisa segede gaban.

Lensa kamera dapat disetel otomatis untuk jarak jauh-dekat.  Beda dengan lensa kamera handhphone yang fixed atau statis.  Bukan kameranya yang bergerak, namun si pemotretlah yang harus menyesuaikan posisi dengan jarak yang diinginkan.  Comprento?

Lalu gimana memilih kamera HP yang bagus?  Ternyata kamera HP yang bagus adalah *drum roll*.... kamera HP yang masih baru!  😝



Alasannya, kamera HP yang brand new pastinya dalam kondisi yang masih prima.  Belum ada cacatnya, belum pernah jatuh, belum ketumpahan air minum, eh..

Lalu gimana dengan kamera konvensional, apakah lebih baik?  Not really, karena kamera yang biasa pun punya masa pakai.  Jenis kamera ini bergantung pada frekuensi si counter shutter; makin sering dipakai, performansinya akan menurun.  Ya wajar laaah, namanya juga barang elektronik.  Jadi bagi para pengguna kamera biasa, perhatikan juga hasil jepretannya.  Jika fotonya tetiba ngga secetar biasanya, ada kemungkinan sang kamera kesayangan sudah uzur, demikian penjelasan mba Ika.

Saya langsung keinget kebiasaan jelek saya yang bisa mengambil banyak frame untuk angle yang sama.  Alamat kudu dikoreksi nih, sayang-sayang si kamera yang dibeli hasil nabung sampe jungkir balik itu.


Bincang serius Mba Ika si pemilik "police line" dengan salah satu peserta


Jadiiii, pakai kamera HP atau kamera biasa?  Jawabannya itu mah terserah Anda.  Kembali ke selera asal.  Yang penting penguasaan tekniknya itu lho, Sist.  Selama menguasai teknik motret, mau apapun senjatanya, Insya Allah hasilnya teteub daebak!

Ngga percaya?  Coba deh sesekali ikutin workshopnya Ika (lha, kok malah gw yang promoin?), dijamin bakal dikasih kuis untuk bedain mana foto yang diambil dengan kamera DSLR vs kamera handphone.  Bikin kening berkerut, cuy!  Perlu waktu untuk finally found the difference.

(Food) Passion

Mba Ika Rahma yang ngakunya ngga punya jiwa seni -lalu dari mana ya dia bisa foto yang bikin mulut kita nganga?-  sharing jika ketrampilannya di level sekarang ini diperolehnya setelah 5 tahun bergulat dengan kamera dan makanan.  Bentar, 5 tahun yll gw motrek apaan ya? hihi

Selain gak punya jiwa seni, dia juga -ngakunya- gak bisa masak sampai mengorbankan satu kompor dan alhasil membuat dapurnya hangus and that's a story behind nama @dapurhangus *ngangguk-ngangguk*.


"Look and think before opening the shutter. The heart and mind are the true lens of camera - Yousuf Karsh"


Adalah passion yang membuat seorang Ika untuk tetap keukeuh menekuni fotografi khususnya food fotografi.  Hasil yang dituai oleh pemilik akun IG dengan follower yang sudah mencapai 400ribuan (beeud, itu orang semua, mba Ika?), saat ini sibuk melayani permintaan manggung sebagai narsum selain menangani orderan foto produk.  Ika Rahma juga dikenal khalayak sebagai salah satu perintis olhop props food fotografi dan guweh ngaku sebagai salah satu yang suka rela menjadi "korban" olshopnya.  Piisss Ikaaa 😁

Jadi, lanjut Ika lagi, yang namanya passion itu vital, Sist.  Jika memang ingin menekuni food fotografi, ya kudu seneng sama keduanya.  Ngga bisa masak,  minimal suka dengan makanan.  Hihihi, ini mah gue bingits!

Bayangkan jika kita diminta klien untuk menampilkan foto yang efeknya bikin ngiler padahal in real life kita gak suka makanannya.  Nah lo!

Practise

Oke, this is the battle part.

Peserta serentak mengambil posisi di 3 meja yang berbeda dengan alat tempur (baca: kamera) masing-masing begitu mba Ika memberikan aba-aba pada kami.  Setiap meja ditata berbeda dengan jenis makanan yang berlainan pula.  Pengen tahu hasil jepretan saya?

"Skills in photography is acquired by practice, not by purchase"


Here you are!











tulisan ini dibuat dengan penuh salam jepret! 😘





12 comments:

  1. Aku liat foto-foto makanan kok jadi laper ya hahaha,

    ReplyDelete
  2. Pengen belajar jugaa, aku ngga bisa motret huhu

    ReplyDelete
  3. uhuiiii, mayan kece mbak hasilnya. Memang butuh telaten nih belajar foto2, me too :)

    ReplyDelete
  4. Bagusss mbaak hasil jepretannya. Suka banget sama angle yg dipilih. Cerdas 😁😁 salam kenaal mbak ya 😊😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mba Lucky, salam kenal kembali.

      Delete
  5. Waktu di Jogja dulu aku nggak ikut. Pdhl pengin bisa juga. Aku pakai auto terus, jadi percuma juga punya mirrorless. Kalau butuh foto bagus, aku foto di halaman krn aku nggak paham pengaturan cahaya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang kudu banyak latihan untuk paham lighting mbak Lus. Dan tiap kamera punya "karakter" jadi kalo menurut saya, it becomes a personal thing. ^_^

      Delete
  6. Iya yah, pake kamera apapun kalau bisa bermain di komposisi, pencahayaan dan angel kayaknya jadi maut deh hasilnya Mba..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama aja seperti menulis 'kali ya? Mau pake mesin tik ora pake laptop tapi kalo nggak bisa "menulis" ya ngga ngaruh hehehe

      Delete

Hai ^_^
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya di blog ini.
Silakan tinggalkan komentar yang baik.
Mohon maaf, komentar anonim maupun yang sifatnya spam, tidak akan dipublikasikan.
Keep reading and Salam !